G.A.S.


Mohon maaf sebelumnya jika posting ini terlihat menjijikan.

Hari ini kondisi kesehatan saya benar-benar tidak fit. Pagi hari, tidak seperti biasanya saya harus empat kali bolak-balik ke kamar mandi gara-gara isi perut saya bergejolak. Setiap kali mulas saya harus ke kamar mandi dan merasakan bahw feses saya tidak normal, keras seperti biasa melainkan dalam bentuk cairan [nggak usah dibayangin].

Setelah tiga kali buang air dan rasa mulas mereda, saya berangkat ke lokasi liputan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Saat di dalam busway, mulas itu kembali menyerang. Ini situasi yang nggak banget. Kalaupun turun di satu halte, lantas mau buang air dimana?

Akhirnya rasa mulas itu saya tahan sampai saya tiba di Halte GOR Sumatri Brojonegoro. Saya lari tunggang langgang. Keringat deras mengalir di tubuh saya karena menahan rasa ingin buang air sekaligus karena berlari menuju Pengadilan.

ilustrasi [dok: google]

Sampai di lokasi, saya titipkan tas kepada teman dan langsung menuju toilet. Lega rasanya saat rasa keinginan untuk buang air terpenuhi. Saya tak lantas bisa bernafas lega. Mulas terus membayangi. Duduk mendengarkan sidang pun tak tenang. Perut saya terus bergejolak hingga akhirnya saya harus kembali ke toilet.

Saat ingin makan siang [kebetulan saya sedang berhalangan], saya pergi ke tukang tongseng. Tapi begitu membayangkan santan dan pedasnya kuah, perut saya kembali tak tenang. Dengan tergesa, saya kembali ke toilet.

Karena dalam keadaan lemas, saya memutuskan meminta ijin kepada redaktur untuk pulang lebih awal. Saya jelaskan kondisi saya yang sebenarnya dan menginformasikan jika saya akan ke dokter saat pulang.

Saya pun pergi mengunjungi dokter. Perut saya diperiksa secara intensif. Si dokter yang entah namanya siapa, memberi tahu bahwa frekuensi bising di usus sudah berkurang. Itu menandakan diare saya sudah mereda.

Selanjutnya kami terlibat dalam suatu percakapan.

Dokter: Kamu sudah berapa kali buang air?
Saya: Enam, Dok.
Dokter: Berlendir nggak fesesnya?
Saya; Kayaknya iya, Dok.
Dokter: Kamu sudah kentut hari ini?
Saya: [terdiam cukup lama mencoba memikirkan apakah dari pagi saya sudah buang gas] Emm, belum dok.

Dokter hanya mengangguk. Ia tidak memberi penjelasan lebih lanjut keterkaitan kentut dengan diare. Setelah diperiksa, saya diberi empat jenis obat dan disarankan jangan memakan yang asam dan pedas untuk beberapa hari ke depan.

Di rumah, entah mengapa saya masih kepikiran dengan pertanyaan dokter soal kentut. Sembari menonton The Glee Project, saya saya terus mencari tahu alasan pertanyaan dokter itu.

Tiba-tiba, saya ingin kentut. Tanpa ditahan, saya langsung lepaskan gas yang ada ditubuh saya. Alih-alih gas yang keluar, saya justru merasakan sesuatu yang hangat dan basah.

Alamak!!! Ternyata orang yang sedang terkena diare tidak mungkin kentut. Karena di saat buang angin, bukan gas yang keluar melainkan feses cair kita.

Wakssss.... jijik banget nggak sih. Tapi, walaupun jijik saya puas karena sudah mendapat jawaban dari pertanyaan si dokter.

Hayaaah, belajar dari peristiwa itu, setiap kali ingin kentut, saya cepat-cepat lari ke toilet. Dari pada cep*r*t di celana, lebih baik di keluarkan di toilet.

Sekali lagi mohon maaf atas posting yang menjijikan ini.

broot croot brebet criiit brobot

Hahhaaaaaa....

Comments