The Right Man in The Right Place at The Right Time!

Seorang teman tiba-tiba bertanya: "Boy, dia udah jadian ya?" Saya tersenyum simpul dan menjawab: "Iya. Kan gue bilang ke dia: Nggak usah nunggu yang nggak pasti. Mending sama yang kejar yang emang punya hati sama elo."

Hehe.. bingung ya? Well, rekan-rekan seper-blog-an. Pembicaraan di atas tersebut merujuk pada orang yang dulu pernah suka sama saya. Sebut saja Blacky (Sorry, nggak bermaksud rasis. Itu kata pertama yang terpikir oleh saya).

Sebenarnya saya malas banget mau nulis soal beginian di blog. Tapi saya tergelitik dengan pertanyaan teman saya itu dan juga twit si Blacky.

Alkisah, si Blacky jatuh hati sama saya. Sudah lama katanya, namun dia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Di waktu yang tepat, saat dia mabok, dia akhirnya bilang suka sama saya.

Saya nggak bereaksi dengan statement tersebut. Pasalnya, saya itu sebelumnya nggak pernah ngobrol sama dia. Saya nggak tahu dia seperti apa dan dia nggak tahu saya seperti apa.

Setelah kejadian itu, saya mulai membuka diri. Saya mau jalan dengan dia, mau diantar pulang oleh dia. Di situ saya mulai mengobservasi dia. Ada sejumlah sifat dia yang tidak sreg dengan saya. Saya pun merasa tidak ada klik dengan dia.

Tiba-tiba, saya memutuskan untuk menjauh. Serius. Saya nggak tahu alasannya kenapa. Dia sempat bertanya kenapa tapi saya tetap bergeming.

Kami kembali dekat. Tapi tak sedekat dulu. Dia seperti sudah lelah digantung oleh saya. Namun saya yakinkan dia untuk tidak menyerah terhadap saya. Dia pun setuju untuk terus menunggu.

Mungkin gara-gara saya tak kunjung memberikan jawaban, dia memutuskan untuk mundur. Saya tahu dia mundur dari kawan baik saya, bukan dari dia. Saya sempet sedikit kecewa sekaligus lega. Akhirnya, saya nggak perlu lagi memberikan jawaban. Dia sudah memilih jawabannya.

Kalau ditanya jawaban pribadi saya, tentunya saya terpaksa menolak dia. Dalam bahasa sederhana, dia tidak berusaha maksimal untuk membuat saya jatuh cinta padanya (deuh.. ngarep bener dikejar-kejar ya Boy).

Dia secara jujur mengatakan kalau dia tidak percaya diri ketika bersama saya. Ketika berbicara dengan saya, dia kerap menunduk dan tak berani memandang mata saya. Lha? Kok bisa seperti itu? Pemalu, kalau kata dia.

Saya ini extraordinary (baca: suka pria matang dan beristri), jadi kalau mau mencuri hati saya juga harus ada usaha ektraordinary. Kalau dia usahanya biasa saja malah cenderung tidak ada usaha, ya cari perempuan biasa saja. Jangan sama saya, perempuan yang luar biasa.

Saya suka pria yang mau berusaha, yang tahan banting dengan segunung sifat dan tabiat buruk saya. Yang siap saya ketusin kalau saya lagi bete. Yang ngertiin hobi-hobi ajaib saya. Yang lebih pintar dari saya. Yang TOEFLnya 600 ke atas. Yang bijaksana menghadapi tingkah saya. Yang umurnya di atas saya.  (eh...ini kok jadi ngelist kriteria suami idaman).

Begitulah. Saya senang dia sekarang akhirnya sudah berpacaran dengan seorang perempuan bernama.... (lha, sok tahu. Kayak tahu aja pacar barunya si Blacky). Semoga langgeng ya dengan Mbake itu. I wish nothing but the best for you two :)

Ya sudahlah ya, dia jodoh Mbake. Saya tetap sabar menanti pria idaman saya  muncul di hadapan saya. Menggandeng saya menuju KUA dan sekolah bareng ke Eropa.

The right man in the right place at the right time! 

Pria itu, saya yakin pada waktunya akan tiba. Amin ya Allah. Kirimin tahun ini yaaaa. Pleaseeee...

Comments