Alhamdulillah

Alhamdulillah. Kekhawatiran saya tidak terbukti. Benjolan yang ada di payudara saya bukanlah tumor penyebab kanker payudara. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG di Rumah Sakit JMC, benjolan tersebut hanyalah penebalan kelenjar minyak. Insyaallah akan mengempes dalam waktu beberapa minggu. 

Kamis lalu saya membawa diri saya ke JMC untuk mengecek benjolan yang ada di payudara kiri saya. Informasi yang saya peroleh dari JMC, dokter ahli penyakit dalam membuka praktek mulai pukul 09.00 WIB. 

Saya pun datang tepat waktu. Antri diurutan kedua, saya duduk anteng di depan ruang kerja si dokter sembari nonton gosip persaingan Ashanti dan Syahrini dalam hal busana muslim (sumpah gosipnya nggak penting banget.  Ngebandingin baju muslim yang dipakai dua orang ini). 

Jam sembilan berlalu. Si dokter masih belum datang. Jam sepuluh, kemudian setengah sebelas, akhirnya nama saya dipanggil: RIZKY!!

Dokter saya ini cowo, namanya A Fahron. Waktu tahu dokternya cowo, saya berharap si dokter masih muda. Eh, ternyata si dokter udah lumayan tua ya. Dan terlihat dokter baik-baik. Cara ngomongnya aja mirip dengan Aa Gym. 

Saya masuk ruang. Dokter Fahron tampak siap banget mendengarkan konsultasi saya. Mukanya ramah, tapi begitu saya cerita maksud kedatangan saya ke sini untuk memeriksakan payudara, dia langsung agak canggung. 

Dia berusaha banget terlihat cool dan mendengarkan semua keluh kesah saya soal si tetek yang seminggu ini bikin saya was-was. Setelah mengoceh panjang lebar, dokter Fahron ngajak saya ke tempat tidur. Bukan mau diajak tidur ya, tapi mau merasakan sendiri keluhan saya soal si benjolan di payudara. 

"Copot baju dok?" tanya saya polos. 
"Iya," jawab dokter Fahron.

Saya pun melucuti kaos dan bra saya. Dokter Fahron, berdiri di hadapan saya, siap meraba dua payudara saya. 

"Bismillahirohmanirohim," kata dokter Fahron dan mulai meraba lokasi benjolan.  
"Mana? Nggak ada benjolan," si dokter tampaknya nggak berhasil menemukan si benjolan setelah meraba-raba payudara saya. 
"Ada dok. Nih, rasain perbedaan puting kiri dan kanan saya," kata saya. Mancing yaa.. minta dipegang dua-duanya. Haha.. tapi memang ada bedanya kok. Ada benjolan di sebelah kiri.
"Mmm.. iya sih. Maaf ya," Dokter Fahron lantas menjamahi payudara saya dan memastikan tidak ada cairan yang keluar dari puting saya. Karena kalau ada cairan yang keluar dan itu berupa nanah, bisa jadi si benjolan adalah tumor. 

Saya  nahan ketawa selama proses ini berlangsung. Pertama karena geli. Kedua karena ekspresi si dokter yang agak canggung dengan pemeriksan ini. Untung saya bisa menahan tawa dan tetap tenang selama pemeriksaan berlangsung.

Setelah acara raba-raba payudara selesai, si dokter menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan USG. Sebenarnya ada opsi mamografi. Namun, si dokter nggak menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan ini karena saya belum menikah. Alasannya karena mamografi mengeluarkan efek radiasi yang katanya nggak bagus untuk perempuan yang belum menikah. 

Hasil USG Payudara kiri saya
USG pun dilakukan beberapa jam kemudian. Lagi-lagi saya disuruh topless. Kali ini dokternya perempuan, tapi asistennya cowo. Aaah, bodo amat deh, sekali lagi mengumbar payudara saya di depan para ahli medis ini.

Dokter Retno, nama radiologisnya kemudian mengoleskan gel ke alat USG.  Alat tersebut selanjutnya disentuhkan ke payudara saya.  Ke seluruh bagian payudara saya. Berkali-kali. Bahkan, ketiak saya juga nggak luput dari alat USG. Si dokter mau sekalian memastikan tidak ada gejala pembengkakan di seluruh payudara dan ketiak, lokasi favorit tumor payudara bersarang.

Selama di- USG, dokternya merasa nggak ada sesuatu yang membahayakan. Menurut dia, benjolan kecil itu hanyalah sebuah penebalan kelenjak minyak.

Keesokan hari, saya kembali ke JMC untuk mengambil hasil USG sekaligus mengkonsultasikan hasil tersebut kepada dokter Fahron. Di kertas hasil pemeriksaan, disimpukan bahwa benjolan hanyalah penebalan jaringan lemak. 



Saya pun menemui dokter Fahron. Tapi kenapa ini dokter dok sepertinya nggak comfortable dengan kedatangan saya. Nggak sekalipun dia memandang mata saya. Menunduk melulu dan membaca hasil USG.

"Nggak berbahaya kok. Tapi kamu habiskan obatnya dan tiga bulan lagi check up ya," kata Dokter Fahron.
"Dok, itu kenapa sih kok bisa terjadi penebalan jaringan lemak di puting saya?" tanya saya serius.
"Oh, itu kamunya kegendutan," jawab dokter Fahron datar.

Seriusan deh ini dokter?? Saya nggak gendut dok. Saya cuma semok, montok. Sempat kaget dengar jawaban si dokter. Tapi ini pelecut buat saya supaya kembali ke berat badan normal: 50-55 kilogram.

Nah, demikian lah kisah saya dan payudara. Pelajaran berharga banget, kalau merasakan adanya benda asing di tubuh kita, sebaiknya segera dicek ke dokter. Jangan sampai ya, kita terlambat mengetahui keberadaannya dan si benda asing keburu kerasan tinggal di tubuh kita. Bahaya.

Saya sempat googling dan menyaksikan betapa ngerinya kanker payudara. Tidak hanya merusak jaringan payudara kita, tetap bisa menggerogoti bagian tubuh lainnya.

Dalam waktu dekat, saya juga akan memeriksakan vagina saya seperti yang dilakukan Vitri. Gunanya untuk mengecek apakah ada kista bersarang di meeting point sperma dengan indung telur (ngaco banget ini).

Alhamdulillah. Ternyata... all is well.

Comments

  1. no pic = hoax! *foto payudaranya boy!
    hahahahaa

    ReplyDelete
  2. huahaha.. tanggal 4 liat langsung...

    ReplyDelete
  3. najooong kau boykeeee!!! Panas dingin tuh dokter megang payudara masih perawan, mungkin dia lupa rasanya saat pertama dulu hahahahhhaa

    ReplyDelete

Post a Comment