The Happiness Project

Setiap bulan saya selalu mengusahakan untuk membeli satu buku berbahasa Inggris. Untuk bulan ini, saya kepincut dengan buku berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Buku ini langsung menarik perhatian saya ketika saya masuk ke Times.

Warna biru muda sampul buku ini menonjol di antara buku-buku yang dipajang di meja terdepan pintu masuk Times.

Saya ambil buku itu dan mulai meneliti seluk beluknya. Oh, lumayan menarik, pikir saya. Oke saya beli buku yang pernah jadi Number 1 New York Times Bestseller (salah satu pertimbangan saya beli buku, ya harus ada embel-embel rekomendasi dari koran/majalah).
Add caption
Saya nggak sabar mau menjamahi setiap lembar isi buku tersebut. Di rumah saya baru sempat melongok lebih dalam buku yang mengisahkan Gretchen dalam mencari kebahagiaan sejati.

Nah, itu pointnya. Kebahagian yang sebenarnya. Yakin, selama ini kita sudah cukup bahagia dengan hidup kita sekarang? Apakah kita selama ini benar-benar hidup dalam kebahagian? Apakah kita lebih sering pura-pura bahagia?

Saya kembali melihat perjalan hidup saya. Di luar, tentu saya tampak bahagia. Ketawa-ketiwi sama teman, jalan ke sana kemari sama cowo, ikut kelompok hobi, makan sesuka saya dan lain sebagainya. Sekali lagi, itu yang tampak di luar. Nah, dari dalam, aaaaahhh, jujur ya, saya nggak bahagia. Stranger bilang, kamu kelihatan bahagia tapi sebenarnya di dalam kamu menangis.

Damn, he's right. I should admit that I am not happy with my life. Saya nggak puas dengan hidup saya. Suka komplen tentang segala hal. Duh, maafkan saya Tuhan. Saya tidak mensyukuri apa yang Kau berikan selama ini.

The Happiness Project, buku ini bakal menjadi panduan saya untuk menjadi pribadi yang berbahagia dan penuh rasa syukur. Kedengarannya lucu ya, mau bahagia aja mesti belajar dari buku.
Bodo amat. Saya nggak peduli. Pokoknya sembari membaca buku ini, saya sekaligus akan mempraktekan nasehat-nasehat Gretchen.

Semalam contohnya, saya sudah mempraktekan salah satu cara menjadi bahagia: tidur lebih awal, matikan lampu dan jauhkan ponsel/laptop dari tempat tidur.

Hehe, bukannya tidur, saya malah ngebayangin hal-hal yang menyeramkan di sekitar saya. Ada setan di kaki sayalah, ada mba kunti gelantung di jendela saya, dll.

Akhirnya saya menyerah. Saya nyalakan lampu dan akhirnya bisa tidur pulas. Tidur dengan lampu gelap bukan kebiasaan saya. Mungkin tak semua ide Gretchen bisa diterapkan terhadap saya.

Meski nggak berhasil dalam percobaan pertama. Saya nggak akan menyerah. The Happiness Project akan terus berlanjut. Saya sudah berkomitmen untuk menjalankan ini. Demi sebuah kebahagian sejati.

Tssssaaaaaahhh!!!

Sekian dulu, saya mau beres-beres kamar, lalu pergi berenang dan diakhiri dengan ketemu Stranger (aaah, kangen banget sama Stranger!)

-I-

Comments