Bodoh!


"Bego! Nggak mau terima kenyataan. Orang bebal baru nyadar kalau sudah hancur biasanya!"  - O

"Dari awal, Boy! Gue udah bilang. Sekarang lo harap gue ngomong apa lagi? Membenarkan elo? Omongan gue bakal sama kayak sebelumnya!" - F


Minggu ini, entah sudah berapa banyak kata "Bego" terlontar dari teman-teman saya. Mereka yang baik, sayang, peduli dan tidak ingin saya merugi.

Marah? Nggak. Kesal? Iya. Sedih? Banget! Nggak bisa terima? Pastinya! Tapi bukan karena kata "Bego"-nya. Tetapi lebih pada alasan mereka mengatai saya bego!

Saya memang bego! Beberapa bulan ini. Saya biarkan diri saya buta dan tuli. Saya menutup diri dari suatu kenyataan yang menyakitkan. Daripada merasa sakit melihat kenyataan, saya lebih memillih menikmati kebahagiaan semu, yang pun akan berujung pada kesedihan.

Dan benar saja.  Euphoria kebahagiaan perlahan memudar. Saya mulai dihadapkan pada kepingan fakta-fakta yang menguak kenyataan. Kenyataan getir yang sesungguhnya sudah saya pahami semenjak saya memutuskan masuk ke permainan ini.

Keputusan sudah dibuat. Saya ingin kembali ke jalur lurus. Tidak menikung, belok apalagi putar balik. Proses ini akan makan waktu lama dan menguras hati, pikiran dan perasaan. Saya siap berkomitmen untuk kembali. Saya berjanji pada diri saya dan mereka. Saya harus kembali.

Comments