Europe on Screen

Minggu ini festival Film Eropa kembali digelar. Saya dan beberapa teman pecinta film sudah heboh menantikan kehadiran festival yang digelar satu tahun sekali ini. Hari ini, Sabtu, saya menyisihkan hari libur saya untuk menonton sejumlah film karya sineas Eropa.

Sebelum menonton, saya harus melakukan kewajiban saya sebagai guru. Mengajar dua murid saya, Julio dan Pallavi. Jatah mengajar keduanya hanya seminggu sekali, jadi kalau saya bolos mengajar saya merasa berdosa kepada keduanya.

Pagi tadi jadwal mengajar agak molor. Pallavi sms jika mereka ingin belajar agak siangan. Saya dengan senang hati menyetujui. Sekitar pukul 09.30 saya tiba di rumah mereka, di kawasan Wijaya Jakarta Selatan.

Ishan, anak Pallavi dan Julio menyambut saya. Dia sedang asyik bermain dengan asisten rumah tangga. Menanam pohon natal di pasir dan bermain pesawat kertas. Ishan kemudian membukakan pintu dan menyuruh saya masuk. Saya langsung menuju ruang kerja Pallavi di ujung kiri rumah. Di sana sudah ada Pallavi dan Julio asyik di depan laptop masing-masing.

Bu Pallavi ternyata tak sedang bermain laptop. Dia sedang memang sebuah booklet kecil dan sebuah pulpen. Saya melihat dia melingkari beberapa bagian booklet tersebut.

"Saya sedang melihat film-film yang mau saya tonton," kata Pallavi dengan bahasa Indonesia yang sudah fasih (ihiiy.. Transfer ilmu berhasil).

"Europe on Screen ya Bu? Saya mau nonton hari ini di Goethe Haus," jawab saya sembari beberes.

"Hari ini saya tidak nonton. Kemarin saya nonton film bagus tentang wartawan," jelas Pallavi.

"Oh ya nonton dimana? Apa nama filmnya?" tanya saya.

"Film pembuka. Di Blitz.  Seru sekali," kata Pallavi. Julio, suami Pallavi adalah duta besar di Uni Eropa, tepatnya kepala seksi politik. Film pembuka biasanya hanya dihadiri oleh undangan dan wartawan.

Kami pun mulai belajar. Segera setelah kegiatan belajar mebgajar selesai saya menuju Goethe. Film pertama yang akan saya tonton adalah kartun asaal Belgia berjudul Sammy. Filmnya seperti Finding Nemo dan Madagascar. Menceritakan soal pelarian para ikan yang dipenjara dalam akuarium raksasa seperti di sea world.

Dari segi efek, tidak begitu memuaskan. Demikian juga dalam hal cerita. Mudah ditebak. Yang menarik justru karakter para ikan dalam film ini. Ada ikan yang belogat latin mengundang tawa penonton.

Oh ya film tentang wartawan itu berjudul The Fourth State. Film ini akan tayang hari minggu di Goethe dan tanggal 11 di Erasmus Huis. Nampaknya saya bakal nonton yang di Erasmus.

Selain film Fourth State masih banyak film menarik lainnya. Begitu mendapatkan booklet saya langsung membaca dan melingkari film-film apik yang wajib tonton. Tahun lau saya hanya sempat menonton satu film. Mudah-mudahan tahun ini lebih banyak film Eropa yang bisa saya nikmati.

Demikian cerita singkat saya di sela-sela break Europe on Screen. Nanti malam mau nonton pagelaran tari yang menarik dari Belanda: Introdans di Gedung Kesenian Jakarta.

Ciao.

Comments