Kacamata Binal

Minggu pagi nan cerah. Saya terbangun dengan kondisi mata kiri bengkak. Di bagian kelopak mata terdapat benjolan kecil. Gatal dan terasa berat saat ingin membuka mata.

Konon, bengkak di kelopak mata disebabkan kurang tidur, fisik lelah, emosi kacau, debu, infeksi, kelelahan akibat terlalu lama di depan gadget dan yang terakhir karena sering mengintip. Saya berkeyakinan benjolan dikarenakan sering mengintip. Hehe..bercanda! Abaikan keyakinan saya. 


Sehari didiamkan tanpa perawatan (dikompres, disalepi, ditetesi obat) si benjolan tetap ada. Tidak membesar, tidak mengecil. Ukurannya masih sama.




Karna masih membenjol, saya memutuskan untuk memakai kacamata saat kerja. Tujuannya untuk menghindari debu jalanan. Tapi toh, kacamata ini justru saya kenakan ketika sampai di KPK. Sepanjang perjalanan saya malah menyimpannya dalam tas.

Di KPK, kacamata gaul (lensanya tak minus/plus) lantas menuai kontroversi. Ada yang mengatakan warna dan bentuknya lucu. Ada yang menyebutkan kacamata milik kawan saya Anda sebagai kacamata binal.

Adalah Randy, fotografer Rakyat Merdeka yang menyebutnya kacamata binal. Kenapa? Menurut pria Arab gadungan, kacamata saya persis seperti kacamata yang dikenalan wanita-wanita nakal di jejaring sosial Facebook.

"Itu tuh kayak cewe-cewe yang suka foto pakai kacamata di Facebook," kata Randy.

Awalnya hanya menyebut nakal, kemudian berubah menjadi binal. Dan kata Binal pun kemudian dijadikan panggilan Randy kepada saya.

Agak kesal disebut demikian. Tapi saya tahu Randy hanya bercanda. Dan besok, saat saya tak lagi berkacamata, saya yakin dia akan memanggil saya sebagaimana nama panggilan saya: Iboy.


Tentang penyebutan kacamata yang saya gunakan sebagai kacamata binal mengingatkan saya pada kecenderungan orang-orang untuk mengidentifikasi suatu hal dengan nama-nama unik. Hal atau benda yang sesungguhnya sudah mempunyai nama tersendiri, oleh masyarakat diubah menggunakan sebutan yang memudahkan mereka untuk mengingat. Diganti dengan kata sifat, kata benda, kata kerja dan yang paling sering digunakan disematkan nama pesohor.

Dulu, ingatkah pada baju koko yang dikenakan oleh Almarhum Ustad Jeffri Al Buchory. Baju muslim pria dengan detail tertentu itu kemudian dinamakan baju koko Uje oleh masyarakat.

Kemudian baju gamis yang dipopulerkan penyanyi Syahrini dikenal dengan Kaftan Syahrini.

Jika datang ke Salon Johny Andrean, kita akan menemukan poster promosi gaya rambut bernama Korean Cut.


Celan jins dengan model menyempit di bagian mata kaki, disebut sebagai celana pensil. Baju dengan model lengan lebar disebut sebagai baju batman/kelelawar. 

Mundur jauh ke belakang, ada model rambut super pendek yang diilhami oleh gaya rambut model bernama Twiggy. Dan masih banyak lagi. 


Lalu, kalau kacamata semacam ini apakah cocok disebut sebagai kacamata binal? :D



Comments