Adakah Orang Lombok Yang Stres?

Saatnya menuju pelabuhan Bangsal. Shuttle bus datang tepat waktu. Bahkan mereka harus menunggu saya yang masih sibuk membereskan barang bawaan saya. 

Pak Junaidi, nama kenek shuttle bus itu menyuruh saya duduk di depan. Karena, bagian belakang akan diisi oleh beberapa bule yang akan menyebrang ke Pulau Komodo. 

Sepanjang jalan, saya banyak mengobrol dengan Pak Junaidi. Mulai dari pembicaraan basa-basi hingga soal adat di Lombok.  Obrolan kami sempat terhenti karena seketika saya disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Pantai Senggigi menghiasi bibir jalan menunju Pelabuhan Bangsal. 

Terkesima tiada henti. Sungguh indah. Pasir putih  yang tak habis-habisnya disapu air laut yang biru. Subhanallah, maha besar tuhan kita. Bisa menciptakan alam seindah itu. Sepanjang jalan, saya nggak berhenti menengok ke kiri. Tentunya nggak lupa untuk foto-foto pakai iPad bapuk. Pak Junaidi sampai harus minggir-minggir agar saya bisa mengambil foto dari jendela mobil. 

Saya diturunkan di Bunga-Bunga Cafe. Masih harus berjalan sekitar 400 meter menuju pelabuhan. Karena masih ada waktu beberapa saat, saya memutuskan untuk makan. Untuk harga, lumayan ya untuk seporsi nasi goreng ayam dan segelas es teh manis saya cukup mengeluarkan uang Rp35 ribu.

Puas makan, saya langsung menuju pelabuhan dengan berjalan kaki. Tapi, kok rasanya jauh ya. Karena malas jalan di bawah teriknya matahari, saya memilih menaiki cidomo, sebutan untuk andong/dokar dalam bahasa lokal. Mereka mematok harga Rp20 ribu. Namun setelah proses negosiasi, saya hanya perlu bayar Rp10 ribu. 

Di bibir pantai, beberapa kapal tampak berjejer menunggu dinaiki penumpang. Satu kapal kayu, muat mengangkut 30 orang. Kapal akan segera berangkat segera setelah kapal terisi penuh.

Saya harus menunggu sekitar sepuluh menit lantaran penumpang belum genap 30. Selagi duduk, sepasang orang tua menghampiri saya. Kami pun terlibat dalam percakapan panjang soal pengalaman masing-masing menuju Gili Trawangan.

Sepasang orang tua tersebut berasal dari Jogja. Mereka datang ke Lombok setelah menempuh perjalanan darat nan panjang. Honeymoon kedua, kata mereka. Pergi diam-diam tanpa pengetahuan anak-anaknya. 

Si Ibu ternyata mengalami hal serupa ketika melintasi jalanan di Senggigi.

"Subhanallah. Duh itu pemandangannya indah sekali. Orang-orang Lombok sungguh beruntung. Di sini mungkin nggak ada orang stres ya, Mbak? Kalau stres mah keterlaluan. Lha wong dikasih keindahan alam begini," kata si Ibu dalam logat jawa yang kental. 

Pelabuhan Bangsal-Gili Trawangan ditempuh hanya sekitar 40 menit. Begitu kapal merapatkan diri ke pasir, saya seperti biasa cengar cengir sendiri. Gili..Gili..Gili. Ya ampun akhirnya bisa sampai Gili dengan selamat. 

Jangan berbahagia dulu, karena misi berikutnya menunggu. Mencari Bale Sasak, rumah saya selama di Gili. Saya sempat tersasar karena nggak memahami arahan yang diberikan oleh orang setempat (ini memang saya bego soal arah). Tapi setelah berputar-putar, Bale Sasak akhirnya ketemu. Horeee.. Hore... Horeee!!!

Di  Bale Sasak, saya tinggal di dormitory atau asrama. Namanya juga dana liburan terbatas, jadi tidur dimana saja boleh. Kalau bisa tidur di mesjid, ya di mesjid deh. 

Nah, selain alasan dana, saya juga ingin punya pengalaman tidur sekamar, beramai-ramai dengan sesama pengelana. Dan ternyata menyenangkan. Dari 12 tempat tidur, cuma satu orang lokalnya. Siapa lagi kalau bukan saya: Rizky Amelia. Sebelas orang lainnya orang asing. Mayoritas Australia. Sepuluh lelaki dan dua wanita. 

Ada perasaan khawatir ketika saya diberitahu pihak Bale Sasak bahwa kunci locker di kamar tidak ada. Terpaksa, alat-alat elektronik dan dompet harus dibawa selalu. Tapi, ternyata memang benar aman kok. Saya meninggalkan handphone di kamar. Dan di sore hari handphone masih anteng tercolok di stop kontak.

Sun(BAAAH)thing

Ceritanya pengen sok  berlagak bak bule yang goleran di pasir dengan memakai bikini.  Dengan bermodal membeli lemon squash, saya dapat sebuah bangku untuk sunbathing

Saat itu tepat pukul 12.00 WIB. Saya duduk manis di bangku sembari celingak celinguk memperhatikan gaya bule-bule berjemur. Ada yang disambi baca buku ada yang benar-benar tidur. 

Oles-oles sunblock. Saya siap berjemur. Kaki selonjoran, tangan sibuk pegang iPad. Bukan baca iBook tapi foto-foto lalu diupdate di Path. 15 menit berjemur, tubuh saya merasakan panas yang luar biasa. Baaaaahhhhhh!!! Inimah namanya Sunbahting bukan sunbathing.

Saya buru-buru kabur ke bale-bale untuk berteduh. Nah, di bale-bale berukuran persegi ini saya bisa tidur-tiduran tanpa terpapar sinar matahari. Lumayanlah, dari sini masih bisa melihat putihnya pasir, birunya air laut, mendengar deburan ombak dan semilir angin pantai. 

Tak butuh waktu lama, saya pun terlelap. Lumayan lama saya tertidur hingga jam empat.  Sebelum pulang saya masih sempat nyemil menu bernama Tapas Bread. Sajian beraneka ragam makanan. Daging domba cincang,  ayam goreng, calamari , roti pita, salad dan sambal plus dipping sauce tartar. 

Mengejar Matahari

Kembali ke kamar, saya cuma ingin mandi lalu mengejar matahari. Di kamar, saya akhirnya berkenalan dengan Nigela, perempuan asal Australia yang juga pergi sendirian ke Gili. 

Dengan mengendarai sepeda sewaan, saya menuju arah matahari terbenam. Semua turis di Gili, pada jam tersebut berjalan mengarah ke lokasi yang sama. Di sana, jejeran bule sudah duduk anteng menunggu matahari dilahap lautan.  Ada yang duduk anteng, ada juga yang sibuk foto-foto. Saya termasuk golongan yang duduk-duduk sambil foto-foto. 

Ternyata ada lokasi lain untuk menikmati sunset. Sekitar lima menit bersepeda. Semacam tebing lengkap dengan bangku-bangku batu menghadap ke arah matahari tenggelam. 

Nah, kalau di sini lebih lucu. Ada yang gonjreng-gonjreng nyanyi lagu-lagu hits. Lalu ada segerombol orang Korea yang asyik foto-foto membentuk kata LOVE. Lucu sekali karena ada adegan mereka menjatuhkan sepeda yang terparkir di situ. 

Atas saran seorang Ibu, saya memilih pulang dengan memutari pulau. Konon, satu Gili Trawangan bisa diputari dalam waktu satu jam. Tantangan diterima. Pantang balik arah. Saya bersepeda mengikuti jalur yang ada. 

Ternyata, tidak seluruh jalan di Gili layak untuk dilewati. Terdapat daerah berpasir yang tidak bisa dilalui dengan mudah oleh sepeda. Terpaksa deh, sepanjang jalan berpasir, saya harus menenteng sepeda. Capenya bukan main. Karena sepedanya berat. Kemringet saudara-saudara. Lepek kayak apa tahu deh badan saya.

Nggak cuma itu. Jalanannya nggak hanya berpasir, tapi juga sepi. Nggak ada yang lewat. Saya sempat parno karena hari sudah gelap. Eh, ternyata ini gegara kaca mata saya. Pas kaca mata dicopot langit masih cerah. Tapi ya tetap saja, serem. Kalau tiba-tiba ada hantu atau ada orang jahat gimana? Takuuuuutttt!!!

Untung, hal itu bisa dilalui. Jalanan kembali bisa dilalui dengan mudah. Bernafas legalah saya. Apalagi setelah ketemu ATM CIMB Niaga. Horeee.. bisa mengisi dompet yamg mulai menipis.

Persoalan datang lagi. Saya lapar. Mau makan masakan lokal tapi mayoritas yang dijajakan adalah makanan western. Dalam perjalanan balik ke Bale Sasak, saya menemukan warung Bu Ida. Ayam Taliwang bakar kayaknya menggoda. Tapi, kok ya harus beli ayamnya seekor. Yaaah, itu mah kebanyakan. Murah sih Rp35 ribu sudah dapat seekor ayam bakar lengkap dengan nasi, sambal dan lalapan. Tapi perut saya nggak sanggup deh melahan seekot ayam. 

Kemudian diputuskanlah untuk makan nasi campur. Saya pilih ayam kecap, bakwan jagung dan sayur oyong kacang yang rasa ya nggak keruan. Ya nggak apa-apalah, cuma untuk menyumpal koor di perut yang harmonis sekali minta diisi. Nasi campur dengan segelas es jeruk dibanderol Rp20 ribu saja. 

Perut kenyang, hati senang, mata keliyengan. Malam ini konon ada party disalah satu cafe. Skip dululah. Mata nggak sanggup untuk melihat kerlap-kerlip lampu di cafe. Pulang saja dan mengistirahatkan tubuh. Soalnya besok ada snorkelng trip . 

-bersambung yaaa-

Comments