Tulang Duduk Patah



Ngeri banget judulnya ya. Etapi itu benar terjadi lho. Tepatnya dua hari yang lalu. Saya yang lagi keranjingan main skateboard, tiba-tiba jatuh terduduk. Ngga main-main, bunyinya luar biasa sampai kakak ipar saya turun ke lantai bawah untuk melihat apa yang terjadi. Ibu saya, mukanya pucat pasi menyaksikan anaknya tergelincir, gagal mendaratkan kaki di posisi yang tepat di papan skateboard.

Namanya juga si Kiky, alih-alih menangis kesakitan, saya malah nyengir sambil memandangi wajah si Ibu. Pasca jatuh telentang, saya langsung  tengkurap selama lebih dari lima menit. Pantat saya sakit luar biasa. Saya meringis menahan sakit sembari sesekali menunduk. Setelah rasa nyeri itu reda, saya langsung berbaring di kasur.

Selagi menenangkan diri dan memanjakan si pantat di atas kasur empuk, saya cari tahu resiko bila terjatuh dari skateboard di internet. Pelbagai artikel yang saya baca membuat saya mengambil keputusan untuk segera ke dokter. Apalagi, setelah puas goleran di kasur, saya kembali beraktivitas dan mendapati rasa sakit setiap kali membungkukan tubuh.

Oke, positif. Saya harus menemui dokter. Karena seluruh rekam medis saya ada di RS JMC Warung Buncit, saya putuskan untuk ke sana. Selain itu, pasca ke dokter saya juga harus ke KPK untuk mengambil tas. Jadi JMC memang pilihan yang tepat.

Bak perempuan hamil, saya berjalan perlahan sembari memegangi pinggang. Duduk pun tidak langsung menjatuhkan pantat ke kursi. Saya lakukan dengan perlahan untuk meminimalisir rasa sakit.

Saat bertemu dokter, saya menceritakan kronologi kejadinnya. Muka si dokter lumayan kaget saat saya bilang saya jatuh dari skateboard. Tanpa berlama-lama, dia langsung menyuruh saya berbaring untuk mengecek apakah ada tulang yang bergeser. Tulang belakang, pantat hingga paha ditekan-tekan untuk memastikan ada rasa sakit atau tidak. Ajaibnya nggak ada. Sakitnya cuma pas mau bungkuk saja.

Sebagaimana permintaan saya, dokter akhirnya membuatkan surat rujukan untuk rontgen. Setelah mengurus administrasi, saya mengatri untuk di foto dengan sinar X-Ray. Nah, proses pengambilan gambar lumayan lama karena saya difoto dari beberapa sisi, yaitu depan dan samping kanan kiri. Penyebab lamanya saya berada di ruang Radiologi adalah hasil foto yang goyang karena saya bergerak saat pemotretan.

Sekitar 20 menit kemudian, saya dipersilahkan untuk keluar dan mendapatkan hasil rontgen. Dua lembar foto tulang belakang dan tulang duduk saya serahkan kembali ke dokter. Sayangnya dikembalikan karena tidak ada hasil analisis dari dokter Radiologi. Saya pun harus menunggu dua jam hingga proses pembacaan selesai.

Dokter yang memberikan rujukan rupanya sudah pulang, sehingga digantikan oleh seorang dokter muda. Ia menunjukan bahwa ada bagian dari tulang duduk saya yang patah. Si dokter menjelaskan dengan muka ngeri sekaligus kasihan kepada saya.

Perasaan saya saat itu campur aduk. Utamanya sedih, karena banyak rencana yang akan tertunda dengan kondisi patahnya tulang duduk sepert ini. Si dokter umum mengatakan bahwa saya tidak boleh banyak bergerak karna bisa menyebabkan patahan semakin membuka. Saya pun disarankan untuk menggunakan korset untuk meminimalisir gerakan di sekitar tulang duduk.

Si dokter nampaknya ragu dan menyarankan saya untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter bedah ortopedi. Tak ingin berlarut-larut dalam ketidakpastian, keesokan harinya saya mendatangi dokter bedah ortopedi.

Banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan kepadanya. Apakah patahan tersebut berbahaya? Resiko apa yang akan saya dapatkan dari patahan tersebut? Karena patahan itu berada di bagian panggul, apakah akan berpengaruh pada organ intim saya? Bagaimana penyembuhannya? Apakah si patahan bisa kembali menyambung? Apakah saya harus operasi? Apakah penyembuhan bisa dengan mengkonsumsi obat? Di bagian mana saya mnegoleskan salep yang diberikan dokter umum?

Usaha untuk konsultasi dengan dokter Gatot rupanya nggak mudah. Ada drama sebelum saya bertemu dengan si dokter. Menurut jadwal, si dokter akan tiba pada pukul 19.00 WIB. Setengah jam sebelum praktek, ia sudah tiba dan menjalankan shalat Magrib. Tapi kemudian dia pergi dan tak bisa dihubungi. Baru sekitar pukul 20.30 WIB, si dokter melayani saya, pasien pertamanya.

Saya jelaskan kronologi kejadiannya sembari menyerahkan foto rontgen. Pas melihat itu, si dokter senyum-senyum sendiri.

Dokter: Sampai sekarang masih sakit?
Saya: Masih dok! Apalagi pas bungkuk.
Dokter: Oh gitu. Dicek dulu ya. Tengkurap di situ. Rilek saja ya.

Proses pemeriksaannya persis seperti yang dilakukan dokter umum. Setelah selesai dia mengatakan bahwa patahan itu tidak berbahaya.

Dokter: Nggak bahaya kok ini. Nggak apa-apa.
Saya: Beneran?
Dokter: Iya.
Saya: Nggak perlu diapa-apain?
Dokter: Iya.
Saya: Berarti bisa buat jalan jauh?
Dokter: Bisa.
Saya: Bisa gendong yang berat-berat?
Dokter: Bisa.
Saya: Bisa melakukan olahraga semacam sepeda?
Dokter: Bisa.
Saya: Bisa main skateboard lagi dong?
Dokter: Bisa. Hayooo, mau tanya apa lagi? Sudah puas belum? Nggak dikasih obat ya. Nanti juga hilang nyerinya.

Dan demikianlaaah. Alhamdulillah wasyukurilah. Ternyata patahan tidak berbahaya. Tapi, walaupun sudah mendapatkan kepastian tersebut, tetap saja bagian belakang masih sedikit sakit saat membungkuk. Semoga rasa nyerinya lama kelamaan bisa hilang. Dan yang terpenting, rencana saya dalam waktu dekat ini alhamdulillah masih bisa dijalankan.

Terima kasih Tuhan sudah memberikan nikmat sehat.

09.01.2016
00.25

Kiky

FYI: Sakit mahal bung. Habis Rp700 ribuan untuk pengecekan kemarin. Harus sehat-sehat biar tabungan nggak sakit.






Comments

  1. hai mbak ini sy fakh teman lama, membaca cerita ini membangkitkan memori lama saya tentang kecelakaan yang kasusnya hampir mirip & berakhir di meja operasi dokter ortopedi, tetapi setelah melihat analisa dokter syukurlah kalau tidak apa2, btw kopdar lagi yuk kangen hehe

    ReplyDelete

Post a Comment