Gagal

Baru kali ini saya mencurahkan hati, pikiran dan tenaga saya untuk mewujudkan satu cita-cita: sekolah di Eropa.

Sekolah di Eropa. Hmmm, sepertinya kesempatan itu sudah berkali-kali mondar-mandir di depan mata saya, dan lewat begitu saja. Selama ini saya selalu merasa tidak siap untuk menempuh pendidikan di Eropa. Bahasa Inggris saya masih kurang sempurna adalah alasan utama saya enggan melangkah maju mengejar cita-cita.

Sejak melihat tawaran mengikuti kursus musim panas di Hamburg Jerman, saya bertetap hati untuk melamar. Saya sudah merencanakan surat motivasi, surat rekomendasi dan latihan menghadapi wawancara. Mba Ana Kompas, alumni kursus tersebut saya jadikan mentor untuk membimbing saya.

Tapi, karena kebiasan buruk suka menunda-nunda, saya pun baru mengejar melengkapi seluruh persyaratan dua minggu menjelang batas akhir pengumpulan berkas. Surat rekomendasi dari Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, rekomendasi dari kantor baru saya terima tepat di hari terakhir batas penyerahan berkas. 

Jumat 11 Mei, deadline aplikasi beasiswa, saya lari dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Pertama saya ke KPK Pak Busyro mau bertemu dan minta saya memaparkan soal beasiswa ini. Selanjutnya ke kantor untuk mengambil surat rekomendasi dari Pemimpin Redaksi dan surat dari Kepala Departemen (tapi surat yang terakhir ini tidak saya temukan. Terselip di antara tumpukan koran di meja kerja Kepala Departemen).

Semua surat terkumpul, saya langsung menyerahkan ke Kedutaan Besar Jerman di kawasan Thamrin. Bismillahirohmanirohim, ucap saya ketika memberikan amplop coklat tersebut ke satpam. Ya Allah, kali ini saya sudah siap. Semoga Kau menjawabnya. Saat itu, saya yakin sekali bahwa saya berkesempatan untuk merasakan Eropa, meski ada satu dokumen tertinggal. 

Setelah semua diserahkan saya tak langsung lega. Kepala Departemen menelpon saya. Dia katakan suratnya ada mejanya. Saya pun dengan tergesa kembali ke kantor untuk mencari secarik kertas penting itu.Saya dapat. Dan tanpa pikir panjang saya langsung mengirimkan surat tersebut melalui fax.Tapi, fax kedutaan Jerman sama sekali tidak mau menerima fax saya tersebut. 
Surat yang tertinggal itu :(
Saya telpon untuk konfirmasi bahwa saya ingin mengirimkan dokumen untuk Summer Academy IJJ. Akan tetapi, menurut si operator, hari Jumat kedutaan buka hanya sampai pukul 11. Saya disarankan untuk mengirimkan dokumen tersebut hari Senin.

Harapan itu mulai pudar. Tapi saya belum mau menyerah. Saya foto surat tersebut dan saya kirim melalui email. Di dalam email saya jelaskan bahwa hari Senin saya akan serahkan dokumen yang tertinggal itu. 

Dengan semangat yang tak lagi membara, saya mencoba kembali mengirimkan dokumen tersebut di hari Senin. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Saya masih berharap mereka tetap mempertimbangkan saya. 

Sehari kemudian, Mba Anita dari bagian Pers dan Kebudayaan Kedutaan Belanda membalas email saya. Dengan berat hati dia harus menyatakan bahwa aplikasi saya tidak bisa dikirim ke Jerman karena tidak lengkap. Lemas. Harapan itu benar-benar sirna sekarang. 
Selamat sore Mbak Rizky,
sayang sekali dokumen yang kami terima kurang lengkap hingga waktu yang telah ditentukan. Oleh sebab itu kamipun tidak bisa meneruskannya ke Jerman.
Semoga untuk program tahun depan atau program yang lain Mbak Rizky bisa mencoba lagi.
Salam,Anita Adriana

Mata saya berkaca. Saya menyalahkan diri saya yang tidak seksama mencari surat dari Kepala Departemen. Andai saja saya tidak menyepelekan bahwa harus sesegera mungkin mungkin mengumpulkan dokumen. Andai saja saya tidak menunda-nunda. Andai saja saya segera mempersiapkan segalanya. Andai semuanya diserahkan sebelum hari H, Juli nanti saya tidak di Indonesia. 

Saya menyesal. Tapi kegagalan ini benar-benar pelajaran yang tak ternilai harganya. Lesson learned: Jangan menunda apa yang bisa kita kerjakan saat itu juga. Persiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Saya jadi ingat kutipan dari film The Mechanic: Victory loves preparation.

Tak apa, masih banyak kesempatan beasiswa lainnya. Saya sudah belajar bagaimana mempersiapkan segalanya. Semoga di kesempatan berikutnya, saya bisa menyiapkan semuanya dengan sempurna. 

Jangan menyerah, Iboy!!

PS: Terima kasih teramat sangat untuk Bapak dan Ibu saya yang sudah support rencana saya ini. Maaf, anakmu belum berhasil. Mba Ana (Kompas), untuk diskusi dan saran-sarannya melalui BBM. Pak Busyro untuk surat rekomendasi dan nasehatnya. Mas Arsa (Humas KPK) yang mau dibuat ribet soal surat rekomendasi. Mas Heru untuk surat rekomendasinya. Jon untuk koreksi dan saran last minute-nya. Mas Ilan (mantan mentor Toefl Prep). Zacky untuk contoh suratnya. 

Comments